Minggu, Maret 21, 2010

PELANGI YANG MEMUDAR


Aku sudah tak dapat berkata-kata lagi, kecuali dua patah kata yang meminta penjelasannya. Ada banyak hal yang sebenarnya tertata di benakku dan ingin segera kutumpahkan di hadapannya. Tapi, seolah deretan panjang kata-kata itu nyangkut di tenggorokan dan membuat dadaku terasa sesak. Sesaat aku hanya memandanginya, memandangi wajah tertunduk tapi menyimpan kemenangan luar biasa itu. Tiba-tiba aku seperti tak mengenalinya sama sekali. Siapa dia yang selama lima tahun terakhir ini hidup bersamaku?

”Lantas apa maumu?” Tanyaku yang ternyata hanya mampu terlontar dalam hati. Ia diam, tak bergerak, hanya sesekali memainkan ujung bolpoin yang ada di tangannya.

”Jika kau bara api, kau telah lunaskan segala harga diri:

***

Hari telah beranjak senja ketika laki-laki itu mengantar kepergian istrinya. Di depan gerbang besi yang mulai karatan itu matanya nanar memandang. Ada gamang, ragu, berbaur dengan kesal tiada tara kepada perempuan yang telah lima tahun ini mendampinginya. Ah, begitulah nasib rumah tangga yang terpisah. Kesalahan kecil pun dapat mementik nyala api, hingga habis hangus tiada sisa.

Dia sebenarnya amat sadar, bahwa kesalahan itu bukan mutlak dilakukan istrinya. Kata-katanya yang amat pedas telah membakar harga diri tertinggi istri yang sebenarnya amat dia sayangi. Tapi dia laki-laki, pantang baginya meminta maaf, apalagi dia yakin betul terhadap desas-desus perselingkuhan istri dengan mantan pacarnya itu.

Setelah hilang bayangan punggung istrinya, dengan enggan ia tutup kembali gerbang besi itu. Sewaktu itu pula ia tutup hatinya untuk istri yang menurutnya terlalu sering melukai perannya sebagai suami.

”Ke mana mencari, jika sebagian jiwa telah kau bawa pergi”

***

Rangga memang bukan anak kecil lagi. Secara fisik, dia nyaris sempurna, sesempurna otak yang dikaruniakan kepadanya. Tak cuma sekali dua kali dia mengukir prestasi, hingga aku tidak saja bangga memiliki dia, tapi dialah matahari yang senantiasa menyinari hari-hari sepiku hampir tiga belas tahun ini.

Tiga belas tahun sudah aku menjadi ibu sekaligus bapak bagi Ranggaku. Apa pun kulakukan demi kebahagiaanya. Sampai aku bertekad tak mau menikah lagi, meski tawaran itu sering ada dan menggoda diriku. Selama itu pula tak pernah kudengar kabar beritanya. Perceraian itu telah benar-benar memisahkan kami. Entah bagaimana kabarnya. Barangkali ia kini telah bahagia dengan keluarga barunya. Aku juga bersyukur ia tak pernah menemui Rangga, hingga aku tak perlu repot menjelaskan kepada Rangga tentang keberadaannya. Aku juga tak usah membongkar kebohongannku jika Papanya telah meninggal dunia.

”Mama, coba lihat ke sini...!!” Suara Rangga memecah gelombang lamunan tentang masa lalu yang entah mengapa akhir-akhir ini begitu menghantuiku.

”Mengapa kau teriak demikian keras? Apa yang kau lihat?” tanyaku tak beranjak dari tempatku berdiri tadi.

”Mama, tengoklah ke sana, pelangi yang kita nantikan akhirnya datang juga. Jika papa masih hidup, mungkin papa juga akan senang menemui pelangi yang selalu saja datang di musim penghujan ini.”

Aku terkejut mendengar kata-katanya, bagaimana ada pelangi jika sinar mentari tak sejenak pun menampakkan diri. Akhir-akhir ini dia memang tergila-gila pada pelangi.

”Tataplah langit, anakku, jika engkau mampu menggenggam seluruhnya dalam pandang kedua matamu, kau akan sadar, betapa kecilnya dunia, sebab di satu titik yang lain. papamu pun akan menatap langit dan bertemu mata denganmu.” Aku sadar, bahwa kata-kata itu hanya boleh terucap dalam hatiku saja.

”Mengapa mama diam? Mengapa mama selalu diam jika aku menyinggung papa? Beban apakah kiranya yang membuat mama terlalu pendiam di hadapannku?” Tajam mata penuh tanda tanya itulah yang selalu meluruh habis air mataku dan senantiasa mengakhiri adegan perbincangan kami.

”Bagaimana bertahan, jika gelombang rindu dendam senantiasa menenggelamkan?”

***

Papaku telah meninggal tiga belas tahun yang lalu. Demikian selalu mamaku berkata jika aku hendak bertanya tentangnya. Mama seolah mampu membaca guratan pedih dan penasaran di wajahku. Dan hanya seperti itu cerita pertama sekaligus terakhir tentang papa dari mamaku. Sebenarnya aku amat penasaran, mengapa begitu rapat mama menyimpan sosok papa. Siapa sesungguhnya papaku, orang yang sebagian darahnya mengalir dalam diriku. Bahkan fotonya tak satu pun kudapati, meski berkali-kali diam-diam aku membongkar kamar mama, ketika beliau tak ada di rumah. Hanya nama ”Chairanni Pramudya” yang kukantongi dari akte kelahiranku. Pekerjaan dosen yang hampir bisa dipastikan di kota di mana aku dilahirkan, Surabaya, Jawa Timur.

Sering, tanpa sepengetahuan siapa pun aku membayangkan sosok papaku itu, sekaligus membayangkan dia datang padaku, memelukku, dan mengatakan, ”Akulah papa yang selalu kau rindu”. Kadang-kadang visualisasi itu begitu nyata, hingga aku dapat merasakan aroma tubuhnya, merasakan desah nafas dan detak jantung yang begitu dekat. Tatap matanya yang penuh wibawa itu memancarkan bangga luar biasa kepadaku. Dia sesekali menanyaiku tentang pelajaran di sekolah, mengajakku jalan-jalan dan mampir di warung sate Pak Kandar di ujung gang. Kepada siapa pun dia dengan bangga mengatakan, ”Ini anakku, anak laki-lakiku”. Begitu seringnya, hingga aku tak ingat lagi berapa kali dia mengajakku jalan-jalan, menyaksikan pelangi sehabis hujan, atau sekedar berbincang tentang pelajaran dan teman.

Senja ini, ketika pelangi kembali muncul di gugusan langit tenggara, tanpa kuduga papa mengunjungiku. Memelukku dengan pelukan amat erat seakan tak mau melepas lagi, aku, anak laki-laki satu-satunya. Di sela perasaan bahagia dan haru itu sempat muncul perasaan marah luar biasa kepada mama yang telah membohongi aku selama tiga belas tahun ini. Inilah papaku, tubuh kekar dan penuh wibawa ini telah hadir di hadapanku, melunaskan semua rindu. Siapa bilang aku tak punya papa, siapa bilang tak sempurna kehidupanku, siapa bilang papa telah meninggalkan aku? Tak ada satu pun yang pasti berani menjawab, sebab nyatanya papa ada di hadapanku saat ini.

Satu hal yang ingin kuketahui dari papaku ini adalah kepergiannya yang penuh misteri, hingga mama tak punya satu pun bahan cerita tentangnya. Mengapa papa begitu tega meninggalkan kami, aku dan mama? Apa sebenarnya yang telah tejadi hingga perceraian harus mengakhiri semua pertalian ini, pertalian antara suami dengan istri dan pertalian antara ayah dengan anak. Tak sadarkah mereka, betapa sakit dan terlukanya anak yang mereka korbankan demi ego mereka? Mengapa harus anak yang memahami keinginan orang tua, bukan orang tua yang seharusnya mengerti kondisi dan posisi anaknya?

Satu demi satu uraian pertanyaan itu semakin mengulminasikan kebencian dan kemarahan dalam hatiku. Aku benci mama yang hanya memotret kebahagiaanku dari banyak pretasi yang telah kuraih. Aku benci dengan papa yang tak pernah perduli dengan keberadaanku, apa pun alasannya. Aku benci dengan egoisme mereka berdua yang selalu berkata, perceraian adalah jalan terbaik jika prinsip tak dapat lagi sejajarkan. Tak pernahkah mereka merasakan bagaimana anak mereka yang berjalan hanya dengan satu pegangan?

”Papa...., pertemuan ini ternyata justru melukaiku.”

”Mengapa, anakku?” tidakkah kamu senang dengan kehadiranku?”

Ah, papa, mestinya papa meninggal saja, agar aku tak terbebani dengan bayang-bayang perceraian papa dan mama.

***

”Memang benar, Bu, ada beberapa kasus serupa yang saya tangani berkaitan dengan kondisi yang dialami oleh Rangga, anak Ibu.Dan kebanyakan mampu pulih sebagaimana sebelumnya, tergantung pada perlakuan kita” Dokter itu berusaha menghiburku

”Jadi yang dialami Rangga itu bukan kesurupan atau kemasukan ruh halus, ya Dok?” Aku masih belum sepenuhnya percaya dengan kata-kata dokter jiwa itu. Sudah beberapa kali Rangga seperti orang kesurupan. Teriak-teriak tak karuan, bahkan dengan warna suara yang berbeda-beda.

”Saya percaya bahwa mahluq halus itu ada, Bu, tapi mungkin tak semudah itu merasuki manusia yang derajadnya lebih tinggi. Apalagi tak ada sebab apa pun yang menguatkan Rangga kesurupan. Rangga hanya mengalami histeria yang disebabkan kapasitas kejiwaannya tak sanggup menerima tekanan persoalan yang dia terima. Realitas yang dia temukan berkaitan dengan perceraian orang tuanya menjadi beban luar biasa baginya, Apalagi selama bertahun-tahun Ibu merahasiakannya. Dia merasa telah ditipu, Bu.”

"Begitu selalu kebanyakan orang mengomentari perceraian kami. Mereka tak pernah mau mengetahui mengapa perceraian itu terjadi.Mereka juga tak pernah mau perduli, seberapa besar pengorbanan saya, seberapa berat sakit hati dan kekecewaan saya.”

”Ini memang posisi dilematis, Bu. Tak bijak kalau saling menyalahkan. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana menyembuhkan Rangga. Apakah papanya sudah diberi tahu, Bu?”

”Bahkan kabar tentangnya pun saya tak tahu....”

***

Laki-laki itu menatap foto di pigura kamarnya tanpa berkedip. Foto pernikahan yang mulai memudar warnanya itu tampak lusuh, selusuh hatinya selama tiga belas tahun kepergian istri dan anaknya. Anak laki-lakinya sekarang mungkin sudah besar, tumbuh dengan fisik yang sempurna. Itu memang sudah kelihatan saat terakhir ia melihat anak laki-lakinya. Ketika itu usia anaknya baru empat tahun. Berarti sekarang sudah berusia tujuh belas tahun. Dia pasti bahagia bersama mama yang mungkin sudah menikah lagi dan membangun keluarga yang harmonis. Tidak seperti dia. Selalu sunyi, sepi, sendiri, hanya ditemani kenangan masa lalu.

”Seandainya waktu berputar ke masa lalu, tak ingin jalan terjal ini kulalui.”

***

Mustagfiroh, November 2009

1 komentar:

entertainment mengatakan...

berkunjung kakak ^.^

Posting Komentar

TAFADZOL-TAFADZOL!!!