Senin, Oktober 05, 2009

SEKILAS PONDOK PESANTREN "MIFTAHUL 'ULA" NGLAWAK KERTOSONO

Secara resmi Pondok Pesantren Miftahul 'Ula didirikan pada 1 Januari 1940 oleh K.H. Abdul Fattah (nama setelah haji) atau yang lebih dikenal dengan nama Kyai Jalalain, putra kedua dari Kyai Arif bin Kyai Hasan Alwi (asal Banyakan Grogol Kediri) dengan Sriatun binti Kyai Hasan Muhyi (asal Kapurejo Kediri). Seperti pesantren pada umumnya, Pondok Pesantren Miftahul 'Ula tumbuh dari kegiatan pengajian yang dilakukan oleh Kyai Jalalain bersama ke-enam santri bawaannya dari Tebuireng, pesantren almamaternya. Dari sisi bangunan cikal bakal Pondok Pesantren Miftahul 'Ula adalah sebuah bangunan dari bambu berukuran 10 x 4 meter untuk tempat sholat, belajar, serta tidur para santri. Sedangkan Kyai sendiri untuk sementara tinggal di rumah H. Yasin, tak jauh dari lokasi pesantren.


Beberapa waktu kemudian, berita berdirinya pesantren di Nglawak pun tersebar. Banyak santri yang kemudian datang untuk berguru kepada Kyai Jalalain. Santri yang dulunya hanya enam orang bertambah menjadi lima puluh orang. Banyak dari mereka yang datang dari luar Nganjuk. Keadaan ini mendorong Kyai Jalalain untuk mendirikan suatu Madrasah Salafiyah yang berinduk pada Madrasah Tebuireng. Ini berarti Pesantren Nglawak mulai ditetapkan sistem klasik dalam pengajarannya, di samping sistem weton yang telah lebih dulu ada. Dalam system madrasi ini dibuka sebelas kelas : dua kelas tingkat sifir, enam kelas tingkat ibtidaiyah, dan tiga kelas tingkat tsanawiyah. Setelah penetapan sistem madrasi berjalan kurang lebih lima tahun, jumlah santri menjadi bilangan seribu orang, suatu perkembangan yang tergolong spektakuler dan fantastis. Santri senior pun menjadi guru untuk membantu kyai mengajar, karena tak mungkin bagi beliau mengajar seluruh santri seorang diri. Untuk menampung para santri yang membludak, dibangunlah kamar-kamar baru atas partisipasi dan kedermawanan banyak pihak.
Pada awal Oktober 1945, Kyai Jalalain mewakili daerah Nganjuk mendapat undangan dari KH. Hasyim Asy’ari untuk mengikuti sidang pleno di Surabaya, bersama-sama seluruh utusan Jawa-Madura. Sidang yang dilaksanakan atas prakarsa KH. Abdul Wahab ini menghasilkan suatu rumusan yang dikenal dengan “Resolusi Jihad”. Menurut BJ. Borland, pecahnya pertempuran Surabaya diawali oleh adanya resolusi jihad ini. Dalam kurun waktu antara 1945-1949, Pesantren Nglawak menjadi markas bagi laskar Hisbullah dan Sabilillah. Dalam kurun waktu ini pula kegiatan-kegiatan pesantren mengalami banyak perubahan. Kalau dahulu hampir seluruh waktu digunakan oleh para santri untuk bergelut dengan ilmu agama, maka kini bidang kemiliteran pun harus digeluti. Peranan Kyai Jalalain di masa revolusi fisik yang paling menonjol adalah tugas beliau sebagai Kyai Pengasma’ yang dibebankan oleh KH. Hasyim Asy’ari, guru beliau.
Saat pemberontakan PKI meletus pada September 1965, Pesantren Nglawak kembali menjadi basis bagi gerakan perjuangan para santri yang hendak membasmi pemberontakan komunis. Kepiawaian Kyai Jalalain dalam bidang asma’ dan kesaktian beliau banyak dibutuhkan masyarakat saat aksi pemberontakan G30S/PKI itu meletus.
(Dari berbagai sumber)

1 komentar:

Makalah Pendidikan mengatakan...

kang Admin, kok gak diupdate ki blog'e? hayo diupdate po'o.. suwun biyen aku nunut 4 tahun skolah dik kono.. mbarokahi!

Posting Komentar

TAFADZOL-TAFADZOL!!!